Archive for the 'Stories' Category

Universitas Birmingham terletak di Westmidlands, Inggris Tengah, tempat editor situs ini belajar untuk program S-2. Sebuah kota yang unik dan menarik dan cocok untuk tempat studi karena tenang serta terletak di tengah Inggris. Anda bisa ke Manchester atau London dengan jarak waktu hampir sama.

Salah satu pemicu semangat untuk mendapatkan beasiswa di Inggris adalah membayangkan bahwa Anda sedang berada disana, jalan-jalan di menara Big Ben yang terkenal di Westminster House.

Cara ini akan memberikan semangat manakala Anda tidak pernah sama sekali ke luar dan bahkan tidak pernah sama sekali menginjakkan kaki di Inggris. Pertama kali saya menginjakkan kaki di Inggris adalah tahun 1993 ketika menerima beasiswa British Award yang kemudian berganti menjadi British Chevening Award. Saya kira prinsipnya sama bahwa beasiswa ini dikelola oleh The British Council untuk menyalurkan para calon mahasiswa dari berbagai belahan bumi guna studi di Inggris.

Sebagai alumni Birmingham University tentu berkeinginan mengajak semua calon mahasiswa bisa menikmati bangku kuliah di negeri Inggris ini. Gambar-gambar yang akan dipasang kemudian tidak lain untuk memperkuat motivasi dan keinginan agar program belajar Anda semakin intensif. Pada dasarnya tidak ada apapun yang dapat menghalangi Anda jika tekun belajar. Tidak adanya pengalaman ke luar negeri dan bahkan ke Inggris seperti saya tidak akan menghalangi Anda.

Bayangkan Anda sempat jalan-jalan di Big Ben disela-sela kesibukan studi Anda….

Seringkali kita bertanya-tanya mungkinkah mendapatkan beasiswa dengan kemampuan saya sekarang? Rasa percaya diri lalu berkurang kalau membandingkan dengan pengalaman dan latar belakang kita.

Jika Anda ingin berkelana menuntut ilmu ke luar negeri termasuk ke Inggris, maka visualisasikan dalam agenda dan catatan Anda. Lihat dan renungkan terus manakala Anda merasa putus asa, kelelahan atau menemui jalan buntu baik dalam soal bahasa atau substansi keilmuan.

Visualisasi akan mempertajam pikiran Anda. Visualisasi akan menguatkan motivasi yang sedang melemah.  Dengan penggambaran bahwa Anda kuliah dan pergi ke sebuah universitas Inggris dan belajar disana, maka akan mempermudah energi ini tersalur. (bersambung)

Investing Knowledge in Liverpool

 Kurang lebih dua tahun yang lalu, gempa berkekuatan 9, 0 skala richter yang disusul gelombang besar tsunami memporak porandakan sebagian besar pesisir Aceh. Ketika itu saya dan teman-teman lainnya yang tertimpa musibah menyangka inilah akhir dari segalanya. Tapi ternyata Allah berkehendak lain, sekarang saya dan sebagian teman-teman yang tadi hampir putus asa tadi, sekarang sedang menuntut ilmu di Inggris selama kurang lebih satu tahun kedepan untuk melanjutkan studi program master di 13 universitas terkemuka di negeri ratu Elizabeth ini.

Pemerintah Inggris sejak tahun 2005 yang lalu lewat konsorsium 13 universitas top di Inggris yaitu, University of Liverpool, University of Manchester, University of Sheffield, Cambridge University, Glasgow University, York University, Cardiff University, University of Bristol, University of Leeds, University of Southampton, University of Newcastle Upon Tyne, University of Birmingham, dan University of Nottingham menyalurkan beasiswa kepada 52 staf pengajar IAIN Ar-Raniry dan Universitas Syiah Kuala Banda Aceh, Nanggroe Aceh Darussalam sebagai dua kampus yang mengalami kerusakan fisik dan kehilangan dosen/tenaga pengajar terparah paska bencana yang mengambil tak kurang 300 ribu lebih nyawa itu.  Beasiswa ini kemudian diberi nama British Universities Scholarsip for Higher Education Institution in Aceh.

Beasiswa yang dikoordinir oleh University of Leeds dan diketuai oleh Bapak Dr. Hywel Coleman tersebut akan berlanjut sampai dengan tahun 2009 dimana 13 universitas yang disebutkan diatas akan menyediakan masing-masing satu beasiswa setiap tahunnya selama 4 tahun sejak 2005 sampai dengan 2009. Pada awalnya dikarenakan hal-hal teknis, para calon penerima beasiswa harus langsung mengikuti ujian IELTS sebagai salah satu persyaratan keberangkatan tanpa ada persiapan atau training preparation terlebih dulu. Namun sejak tahun kedua, berkat support dari British Council Indonesia dan Indonesian – Australian Language Foundation ((IALF) cabang Surabaya para kandidat mendapatkan training persiapan Bahasa Inggris di IALF Surabaya. Bahkan sejak angkatan ketiga, Badan Rekonstruksi dan Rehabilitasi (BRR) Aceh akan mengalokasikan  dana bagi para kandidat untuk mengikuti training bahasa sampai tahun 2009 sesuai dengan kebutuhan kandidat. Sebuah upaya yang harus kita sambut dengan appresiasi setinggi-tingginya tentunya.

Bagi saya sendiri, kesempatan untuk melanjutkan study di Inggris yang notabene mempunyai ‘quality control’ dan reputasi sebagai salah satu negara terdepan dalam bidang pendidikan adalah sebuah hal yang sangat berharga. Dalam usia yang masih relatif muda (24 tahun) saya diharapkan bisa memberikan warna dikampus almamater saya ketika pulang nanti. Lebih jauh lagi diharapkan alumni penerima beasiswa ini bisa memberikan perbedaan yang berarti dalam kontribusinya membangun Aceh kembali kedepan.

Saya Alhamdulillah diterima di University of Liverpool, salah satu universitas dan kota tertua di Inggris yang sering disebut dengan ‘red brick university’ sejajar dengan Cambridge atau Oxford University’. Saya sekarang kuliah di ‘School of English’ di Faculty of Arts and Humanities. Konsentrasi yang saya ambil adalah Applied Linguitics sesuai dengan latar belakang pendidikan saya ketika S1 di IAIN Ar-Raniry B.Aceh.
Di Museum The Beatles
 Saya sangat beruntung karena ketika saya tiba disini, disaat yang bersamaan Kota Liverpool sedang giat-giatnya mempersiapkan diri untuk menyambut Ulang Tahunnya yang ke 800 pada tahun 2007 dan yang lebih menarik lagi, menjadi tuan rumah European Capital of Culture 2008. Kota pelabuhan yang mendunia berkat grup musik legendaris The Beatles dan klub sepakbola Liverpool yang menjuarai Liga Champions Eropa tahun 2005 dengan mengalahkan AC Milan ini ternyata adalah kota tempat dibuatnya kapal raksasa Titanic yang berangkat dari Southampton dan kemudian tenggelam di Lautan Atlantik karena menabrak bongkahan es dalam perjalanannya menuju Los Angeles, Amerika Serikat. Kota yang juga disebut sebut sebagai The World Heritage Centre ini ternyata juga menjadi salah satu tujuan bagi para turis dari berbagai negara di Eropa dan dari hasil riset terakhir menyatakan bahwa Liverpool adalah ‘one of the safest city in Europe’. Wow..!!! Dan jika anda seorang muslim, juga jangan khawatir, karena anda akan dengan sangat mudah mendapatkan ‘halal shop’ disetiap sudut jalan dan pihak kampus juga menyediakan tempat ibadah bagi semua agama termasuk muslim (di Liverpool Islamic Society/LIVISOC prayer room). Perlu diketahui juga (karena mungkin banyak yang belum tahu bahwasannya masjid pertama yang dibangun di Inggris adalah di Liverpool yang dibangun oleh mantan Duta Besar Kerajaan Inggris untuk Maroko di abad 18 yang kemudian masuk islam bernama Abdullah Quillingham yang sekarang dikelola oleh lembaga Abdullah Quillingham Heritage Centre.

 Di lingkungan kampus, yang letaknya hanya sekitar 10-15 menit dari City Centre anda akan mendapatkan suasana kampus yang sangat sibuk. Disini bukanlah suatu hal yang aneh melihat para mahasiswa yang berasal dari berbagai negara mulai dari Asia, Eropa, Amerika sampai Afrika hilir mudik setiap harinya. Kampusnya sendiri dilengkapi dengan dua buah perpustakaan dengan fasilitas yang serba canggih, yaitu Harold Cohen Library untuk mahasiswa yang mengambil studi eksakta dan ilmu-ilmu alam serta Sydney Jones Library bagi mahasiswa yang mendalami ilmu – ilmu sosial dan humaniora. Koleksi bukunya yang lumayan lengkap plus fasilitas e-book, e-journal dan akses internet supercepat yang dibuka selama 24 jam semakin membuat mahasiswa betah untuk berlama-lama dikampus.
 
 
 University of Liverpool

Disisi lain para staff dan karyawannya juga sangat ramah dan selalu siap untuk membantu. Bagi mahasiswa internasional, pihak kampus membentuk sebuah departemen khusus yang bertugas menghadapi dan menyelesaikan segala hal yang berhubungan dengan mahasiswa internasional, mulai dari mengadakan penjemputan khusus bagi mahasiswa internasional dari bandara ke akomodasi kampus, menyediakan kursus bahasa bagi mahasiswa sekaligus keluarga mereka, advokasi atau konselling, sampai membantu para mahasiswa untuk mendapatkan pekerjaan paruh waktu dan memperpanjang visa dan sebagainya. Supermarket, bank, ATM, dan ‘koperasi mahasiswa’nya juga sangat banyak sehingga anda tidak perlu khawatir jika ingin belanja makanan sehari-hari dan melakukan transaksi finansial lainnya.

  Selain itu, kebanyakan mahasiswa internasional disini juga memanfaatkan kesempatan itu untuk sesekali (atau mungkin berkali kali) di akhir pekan untuk mengunjungi tempat tempat wisata dan bersejarah di Inggris lainnya. Dan ini dipermudah dengan mudahnya kita mendapatkan discount ketika ingin melakukan perjalananan ke kota lain apabila anda seorang mahasiswa. Atau kalau istilah kita disini mungkin lebih tepatnya bisa diibaratkan dengan ‘kartu miskin’, yaitu kartu mahasiswa. Bahkan, kalau bisa membeli tiket minimal satu bulan sebelum keberangkatan, anda akan mendapatkan harga tiket bus, kereta api, dan pesawat dengan harga yang sangat miring sampai cuma 1 poundsterling atau kalau kita konversikan sama dengan 15 atau 17 ribu rupiah!!!. Bandingkan dengan di Indonesia…
 Akhirnya, satu hal yang pasti, bahwa kesempatan berharga seperti ini sangatlah langka dan mungkin tidak akan datang dua kali. Oleh karena itu saya dan teman-teman lainnya yang sudah berada disini sangat mengharapkan agar kesempatan ini bisa dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia khususnya di Aceh didalam bidang pendidikan demi masa depan yang lebih baik kedepan. Masih tersisa 42 kuota lagi yang belum terisi diberbagai universitas ternama seperti Cambridge, Bristol, Cardiff, Manchester, Southampton dan Nottingham yang masih belum terisi. Akan sangat disayangkan apabila momentum emas ini terbuang percuma begitu saja. Kita tunggu teman-teman di Aceh disini segera. Cheers

 Penulis adalah penerima beasiswa British Universities Scholarsip for Higher Education Institution in Aceh tahun akademik 2006-2007 di University of Liverpool Asal IAIN Ar-Raniry Banda Aceh, Indonesia. Saiful Akmal, MA Applied Linguistics, School of English Department, Faculty of Arts and Humanities, University of Liverpool, UK

Your Ad Here